Biar Nggak Over! Yuk Pahami Loudness & Metering, Ilmu Wajib Buat Produser Musik!

Bagi banyak orang, ‘loudness’ (kenyaringan) adalah topik yang paling membingungkan dalam produksi musik – tapi tenang, ini tidak seseram yang kamu bayangkan kok. Yuk, simak semua hal yang wajib kamu ketahui di sini!

Sebenarnya, apa sih ‘loudness’ itu? Sederhananya, bayangkan ini sebagai seberapa lantang suatu lagu terdengar di telinga pendengar dibandingkan dengan lagu lain yang diputar pada pengaturan volume yang sama persis. Kalau kamu salah mengaturnya, lagu heromu berisiko diturunkan volumenya oleh platform seperti Spotify dan Apple Music… atau bahkan bisa merusak suasana di lantai dansa! Tapi kalau pas, lagu kamu bakal terdengar berkilau dan dahsyat di mana pun orang mendengarnya. 

Jangan khawatir ya, ini sama sekali tidak rumit kok. Artikel ini akan mengupas tuntas konsep serta istilah-istilah pentingnya, dan menjelaskan semua yang kamu butuhkan agar musikmu terdengar pas. Dengan modal info keren ini, kamu bisa langsung mendapatkan analisis mix gratis dari Mix Check Studio untuk memastikan lagumu diputar dengan sempurna di setiap sound system dan platform streaming.

Mastering, metering, dan loudness 

Loudness paling sering dibahas dalam proses mastering – yaitu tahap akhir mempersiapkan lagu sebelum dirilis ke dunia luar (lewat streaming, piringan hitam, dll.). Dan salah satu tugas utama dalam mastering adalah mencapai tingkat loudness yang paling optimal. 

Senjata utama untuk mengontrol loudness adalah limiter, semacam pengontrol dinamika super khusus yang sangat kuat. Kalau kamu baru pertama kali mendengar konsep ini, sangat disarankan membaca Dynamic Range Demystified - segera hadir terlebih dahulu untuk perkenalan awal yang mudah dipahami.

Nah, meskipun limiter bertugas mengontrol loudness, meteran audio (meter) adalah sahabat setianya yang tidak boleh ketinggalan. Lewat meter inilah kita bisa memantau apa yang sedang dilakukan oleh limiter kita, menghindari masalah audio yang mengganggu pendengar, dan mematuhi spesifikasi ketat untuk kebutuhan siaran ataupun streaming. 

Sekarang, mari kita intip apa saja yang ditampilkan oleh meter audio modern!

audio meter

Desibel, dB, dan Full Scale – Waduh, apa pula itu?!  

Istilah desibel digunakan dalam beberapa konteks audio yang berbeda. Karena orang sering kali malas dan menyingkat semuanya menjadi 'dB', asyik juga nih kalau kita tahu perbedaan masing-masing!

  • dB: Ini adalah satuan dasar untuk menggambarkan perubahan atau perbedaan pada tingkat suara atau sinyal. Contohnya, saat kamu bilang “boost kick-nya sebesar 1dB”, artinya kamu ingin menaikkan level channel tersebut 1dB lebih tinggi dari levelnya saat ini.

  • dB SPL: Saat kita berbicara tentang volume suara di dunia nyata – alias tekanan gelombang suara yang bergerak di udara – kita menggunakan dB SPL (Sound Pressure Level). Nah, ini dia yang biasanya diukur oleh petugas keamanan atau dinas tata kota di luar kelab malam untuk memastikan volumenya tidak mengganggu tetangga. 

  • dBFS: Saat kita membahas tingkat sinyal audio digital – sinyal yang ada di dalam DAW atau perangkat keras digitalmu – kita menggunakan dBFS (decibels relative to Full Scale). Di sistem digital, nilai maksimumnya adalah 0dBFS, dan level lainnya akan berstatus minus atau negatif. Jadi, kalau ada yang bilang ‘pre-master kamu sebaiknya di angka -6dB’, sebenarnya mereka bermaksud bilang ‘peak atau puncak tertinggi di pre-master kamu harus berada di -6dBFS’.

Nah, bicara soal peak atau puncak suara…

Peak vs. RMS

Sejak era 1950-an hingga akhir 2000-an, pertimbangan utama dalam proses mastering selalu berputar di sekitar konsep ‘peak’ dan ‘RMS’.  

Coba deh lihat bentuk gelombang (waveform) di bawah ini.

Nilai peak adalah titik paling kencang yang dicapai oleh audio tersebut di sepanjang lagu – dalam kasus ini adalah 0dBFS, yang disentuh berulang kali.

Tapi sekarang, coba lihat file yang ini.

File ini juga memiliki nilai peak -0dBFS. Tapi, mari kita dengarkan bedanya…

Contoh 1: https://on.soundcloud.com/CQcxcgaDv9g0C9mvvS

Contoh 2: https://on.soundcloud.com/eH8PpwCUhkh3Z60myI

Lagu pertama memiliki nilai RMS sekitar -10.5dBFS. Sementara lagu kedua memiliki nilai RMS yang jauh lebih tinggi – sekitar -5dBFS – dan terdengar jauh lebih menggelegar! 

Jadi, memantau peak sangat berguna untuk menghindari terjadinya clipping yang tidak diinginkan (baca artikel tentang clipping), sedangkan RMS menunjukkan level rata-rata, bukan titik tertingginya. Oleh karena itu, RMS adalah indikator yang jauh lebih akurat untuk menggambarkan apa yang kita sebut sebagai ‘perceived loudness’ (kenyaringan yang dirasakan).

Perceived loudness (Kenyaringan yang dirasakan)

Perceived loudness adalah persis seperti namanya: seberapa lantang suatu lagu dirasakan oleh telinga pendengar saat dibandingkan dengan lagu-lagu lain yang diputar di volume yang sama. 

Hal ini sangat penting baik secara teknis – misalnya memastikan suara-suara yang lembut di dalam lagu tidak hilang begitu saja dan tetap terdengar – dan juga karena tingkat kenyaringan tertentu secara alami memang terdengar lebih mantap di telinga manusia.

Tingkat kenyaringan yang ideal itu subjektif dan bervariasi tergantung genre, era musik, bahkan selera masing-masing pendengar. Lagu club-banger yang asyik buat joget tentu butuh kenyaringan yang bertenaga dan langsung menendang di depan muka, sedangkan penampilan musik folk akustik yang syahdu bisa rusak berantakan jika dipaksa menggunakan tingkat kenyaringan sekencang itu. 

Kenyaringan yang ideal tidak selalu berarti harus ‘super kencang’. 

Dalam praktiknya, langkah terbaik adalah membandingkan musikmu dengan lagu dan produser favoritmu di genre yang sama. Dan seperti yang akan kita lihat nanti, Mix Check Studio kami bisa memandu kamu ke level yang paling pas untuk platform streaming pilihanmu!

Meskipun RMS memberikan gambaran yang lebih nyata daripada peak tentang seberapa keras suatu lagu terdengar, saat kita melakukan mastering dan mendistribusikan musik modern, terutama untuk kebutuhan streaming, kita wajib banget berkenalan dengan yang namanya LUFS. 

Tapi, sebelum itu…

True peak

True peak merujuk pada keunikan sistem audio digital di mana nilai peak yang tertera pada file audio digitalmu bisa berbeda dengan peak asli yang dihasilkan saat suara tersebut diubah menjadi sinyal audio untuk diputar di speaker. Hal ini terjadi ketika kita memaksa limiter digital bekerja terlalu keras demi mengejar kenyaringan ekstra. Meskipun durasinya sangat singkat, true peak tetap bisa menimbulkan masalah lho.

Kami menjelaskannya secara lengkap di Clipping and Headroom: Rahasia Mixes yang Hidup dan Dinamis, dan ini sangat krusial, jadi pastikan kamu membacanya juga ya! Untuk sekarang, cukup diingat bahwa sebagian besar sistem metering modern (beserta Mix Check Studio) pasti akan mendeteksi hal ini.

Crest factor

Istilah lain yang sering kita temukan di metering audio adalah ‘crest factor’ – yaitu selisih antara nilai peak dan RMS. 

Crest factor sangat bervariasi tergantung pada materi lagumu, atau bahkan bagian tertentu dari lagu tersebut. Gesekan biola (bowed strings) memiliki sedikit lonjakan suara, jadi perbedaan antara peak dan RMS/rata-ratanya sangat tipis. Tapi begitu drum mulai masuk, perbedaannya langsung melonjak drastis! Apa pun yang mengubah hubungan ini – misalnya limiter – akan memengaruhi crest factor lagumu. 

Tidak ada standar mutlak untuk kisaran crest factor, jadi jangan biarkan ini mendikte keputusan senimu. Alih-alih begitu, jadikan ini sebagai cara pintar untuk mengukur seberapa jauh kamu mengubah dinamika lagu dengan kompresi atau pembatasan (limiting). 

Loudness Range (LRA)

Banyak meteran audio juga menampilkan Loudness Range (LRA). LRA adalah rentang dinamis suatu lagu dari waktu ke waktu – dengan kata lain, seberapa banyak tingkat kenyaringan itu berubah di sepanjang lagu. Lagu yang dikompres habis-habisan mungkin hanya memiliki LRA beberapa dB saja, sementara musik latar film (film score) atau rekaman akustik bisa memiliki rentang yang jauh lebih lebar. 

Sama seperti crest factor, LRA membantu kamu memantau seberapa dinamis hasil master lagumu.

Perang kenyaringan (The loudness war)

Sebelum kita beralih ke istilah metering berikutnya yang bisa dibilang paling krusial, mari kita bernostalgia sejenak ke era 2000-an – era yang dalam sejarah audio dikenal sebagai perang kompresi audio yang luar biasa brutal!

Kenapa era 2000-an? Di era 90-an, teknologi digital brickwall limiter dengan fitur look-ahead mulai naik daun, memungkinkan limiting yang jauh lebih ekstrem… dan menghasilkan suara yang luar biasa kencang. Ini bertepatan dengan transisi dari piringan hitam ke CD, di mana format digital CD mengizinkan tingkat kenyaringan yang jauh lebih tinggi daripada pendahulu analognya. 

Ditambah lagi dengan kecenderungan alami manusia yang menganggap suara yang lebih kencang terdengar lebih bagus saat dibandingkan secara langsung (A/B comparison). Alhasil, industri musik memiliki insentif finansial yang kuat untuk mempush volume sekencang mungkin memanfaatkan teknologi baru tersebut.

Untuk melihat seberapa gilanya perang ini, coba bandingkan dua single dari Red Hot Chili Peppers di bawah ini. Yang satu rilis pada tahun 1991 dari album Blood Sugar Sex Magik, dan satunya lagi rilis tahun 2011 dari album I’m With You.

Gila banget, kan? Sangat ekstrem, sampai-sampai industri penyiaran harus turun tangan untuk menghentikan kegilaan ini. Dan dari sanalah lahir LUFS. 

Sejarah singkat LUFS

Sebelum tahun 2000-an, RMS biasa digunakan sebagai patokan untuk ‘perceived loudness’. Dan kalau kamu hanya mendengarkan potongan kecil lagu di bagian reff yang ramai, RMS memang masih menjadi pemandu yang oke. Tapi RMS punya keterbatasan (maaf, plesetan yang tidak disengaja!).

Coba lihat trek yang satu ini.

Ada beberapa bagian yang tenang dan sunyi di lagu ini, namun nilai RMS untuk satu lagu penuh tidak bisa membedakan struktur aransemen tersebut – ia hanya menghitung nilai rata-rata dari keseluruhan lagu, termasuk bagian intro dan breakdown. Jadi, nilai RMS keseluruhannya adalah sekitar -9dBFS RMS. 

Tapi sekarang, mari kita potong bagian yang paling kencang saja lalu kita analisis.

Hasilnya kita mendapatkan nilai RMS yang mendekati -6dBFS RMS. Ada perbedaan sebesar 3dB, dan tentu saja bagian inilah yang paling menentukan seberapa kencang lagu tersebut akan dirasakan oleh para pendengar. 

Pada akhirnya kita menyadari bahwa di hadapan digital limiting, nilai RMS dari satu lagu utuh tidak lagi ampuh untuk mengukur seberapa lantang lagu tersebut akan terdengar di telinga. 

Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah metode pengukuran baru, dan lahirlah Loudness Units relative to Full Scale (LUFS). 

Ditetapkan sebagai standar pada tahun 2006 (diikuti dengan spesifikasi penyiaran terkait pada tahun 2011), sistem LUFS dirancang cerdas untuk membedakan bagian sunyi dan bagian kencang dalam sebuah lagu, lalu mengalkulasikan nilainya dengan sangat akurat. 

Dan kehadirannya benar-benar tepat waktu – terutama seiring dengan melejitnya iPod, iTunes, dan berbagai platform streaming raksasa seperti Spotify. 

Nah, bicara soal platform streaming…

Dilema dunia streaming

Platform music streaming telah mengubah peta persaingan loudness secara total, dan kita patut bersyukur karena karya musik itu sendiri yang paling diuntungkan. Dulu, di puncak era 'loudness war', tujuannya sangat sederhana: pokoknya lagu kita harus terdengar lebih kencang dibanding lagu sebelum atau sesudahnya

Baik itu di radio, TV, maupun CD. 

Namun, pendengar hari ini sebagian besar menikmati musik lewat streaming, dan perusahaan streaming sangat tidak menyukai trik loudness yang berlebihan. Mereka ingin para pendengar menikmati pengalaman mendengarkan yang mulus, stabil, dan nyaman tanpa peduli lagu apa yang diputar berikutnya – kebalikan total dari era perang kenyaringan dulu. 

Bahkan Apple iTunes di masa-masa awalnya sudah menawarkan fitur auto-leveling, menggunakan algoritma khusus untuk mendeteksi seberapa kencang sebuah lagu, lalu menyesuaikan levelnya agar volume dari satu lagu ke lagu lainnya tetap konsisten.

Dan langkah ini sangat masuk akal! Berbeda dengan radio yang memproses audio terlebih dahulu sebelum disiarkan, seorang pendengar yang memutar koleksi CD-nya secara acak (shuffle) di iPod bisa saja melompat antar-dekade dan genre musik yang berbeda, yang tentunya berpotensi memicu lonjakan perceived loudness yang sangat mengagetkan. 

Namun, seperti yang kita bahas tadi, sistem penyeimbang level lagu yang hanya mengandalkan RMS belumlah sempurna. Sistem tersebut sering kali meleset dalam menyamakan level antar-lagu, dan pada musik yang sangat dinamis, malah bisa memicu lonjakan volume mendadak di tengah lagu.

Inilah dilema dunia streaming. Suka atau tidak, platform-platform tersebut ingin kamu tetap betah mendengarkan transisi lagu demi lagu dengan mulus tanpa jeda yang mengganggu. Dan mereka mengerahkan pasukan algoritma penjaga perdamaian untuk memastikan gencatan senjata 'loudness war' tetap terjaga!

Meskipun terdengar sangat canggih, pada dasarnya proses ini mirip dengan fitur auto-leveler milik iTunes. Perbedaan besarnya adalah, alih-alih mengukur RMS atau algoritma kustom biasa, mereka mengukur nilai LUFS.

Dan sistem ini bekerja dengan sangat baik. Jika kamu memaksakan lagumu terdengar lebih kencang dari lagu lainnya, kamu akan mendapati platform tersebut langsung menurunkan volume lagumu secara otomatis, yang justru bisa membuatnya terdengar lebih pelan dibanding lagu lainnya. 

Memicu penurunan volume untuk mencegah lonjakan? Lho, kok begitu?

Tapi tunggu dulu… jika tujuan utamanya adalah menyajikan pengalaman mendengarkan yang mulus, dan sistem penyeimbang ini justru bisa membuat lagu yang awalnya kencang terdengar lebih pelan, mengapa mereka melakukan ini? 

Pertama, ada alasan teknis yang cukup krusial untuk membatasi kenyaringan yang berlebihan. Contohnya, hampir semua platform menerapkan proses encoding (kompresi format), yang rawan memicu distorsi/clipping jika audionya terlalu kencang (baca Clipping and Headroom: Rahasia Mixes yang Hidup dan Dinamis).

Tapi ini juga berfungsi sebagai pencegah yang tegas: ‘Kalau kamu coba-coba memulai perang kenyaringan lagi, kami tinggal mengecilkan volume karyamu’. 

Terlepas dari pandanganmu mengenai kelebihan atau kekurangan model streaming ini, standar baru ini membuktikan kekuatan besar yang kini dimiliki oleh platform streaming, dan ini telah merintis era baru yang menyeimbangkan antara kenyaringan (loudness) dan dinamika musik.  

Satu-satunya tantangan adalah setiap platform memiliki standar loudness yang berbeda-beda. Tapi kalau kamu bingung bagaimana menghadapi lanskap baru ini… tenang saja! Mix Check Studio menyajikan informasi super lengkap tentang seberapa besar tiap platform utama akan menaikkan atau menurunkan volume lagumu. 

Kisah tiga jenis LUFS

Omong-omong, sistem metering modern sering kali menampilkan tiga jenis nilai LUFS, dan penting banget nih buat kita ketahui apa saja fungsinya! 

Momentary: Mengukur sinyal dalam letupan 400ms yang saling tumpang tindih, memberikan hasil pembacaan yang mirip dengan RMS.

Short-term: Serupa dengan momentary, namun bekerja menggunakan window waktu 3 detik yang terus bergeser.

Sama halnya dengan crest factor dan LRA, baik momentary maupun short-term sebaiknya dianggap sebagai indikator yang membantu, bukan target akhir yang kaku. 

Integrated: Ini adalah nilai rata-rata dari keseluruhan lagu. Angka inilah yang paling diperhatikan oleh stasiun siaran dan platform streaming, jadi jadikan ini sebagai fokus target akhir rilisamu!   

Loudness, RoEx, dan Mix Check Studio

Ada banyak ruang kreativitas dalam menentukan target kenyaringan musikmu, namun ada juga persyaratan teknis wajib untuk kebutuhan streaming. Menganalisis hasil mix kamu dengan Mix Check Studio akan memberikan panduan yang sangat jelas dan mudah dipahami. 

Untuk melakukan pengecekan gratis pada lagumu, kamu cukup masuk dengan akun gratis lalu unggah lagumu. Kamu akan diminta menentukan apakah lagumu sudah melalui proses mastering (mastered) atau belum (unmastered). Lagu yang sudah mastered tentu jauh lebih kencang dibanding pre-master, jadi penting sekali untuk memberi tahu sistem tentang status lagumu. 

Dan jika lagumu belum di-master, pastikan kamu mematikan limiter apa pun yang terpasang pada master bus sebelum mengeceknya di Mix Check Studio (dan sebelum mengirimkannya ke teknisi mastering!).

Sekarang, pilih opsi ‘Check’ untuk mendapatkan hasil analisis instan yang disesuaikan khusus untuk lagumu. 

Selain menyajikan berbagai saran tonal, dinamika, dan stereo field, Roex juga akan memberikan masukan yang jelas dan sederhana tentang lagumu (klik tanda panah di setiap bagian untuk membacanya secara detail).

Dengan mengetahui penyesuaian level apa saja yang akan dilakukan oleh setiap platform sebelum kamu merilisnya, kamu bisa mengatur ulang kenyaringan lagumu untuk mencegah penurunan drastis – entah itu dengan mencari jalan tengah yang aman bagi semua platform atau mengoptimalkan hasil mastermu khusus untuk platform favoritmu.

Jika lagumu belum melalui proses mastering, fitur Mastering+ dari Mix Check Studio bisa melakukannya untukmu secara otomatis, sekaligus menyesuaikan tingkat kenyaringan yang dibutuhkan secara cerdas. 

Bahkan fitur ini bisa membuat beberapa versi master dengan tingkat loudness berbeda, misalnya versi super kencang khusus untuk kelab malam/Beatport dan versi lainnya yang dioptimalkan untuk streaming. 

Kesimpulan akhir

Jadi, apa saja yang sudah kita pelajari hari ini? Pertama dan yang terpenting: loudness itu memang krusial. Pendengar secara naluriah menyukai musik yang terdengar lebih kencang, tapi itu hanya berlaku saat membandingkan dua trek secara berurutan. Di luar itu, lebih kencang belum tentu lebih baik.

Membuat hasil master yang terlalu kencang dan dipaksakan justru bisa merusak kualitas musikmu, menghancurkan transient suara, menghilangkan jiwa dan dinamika lagu, bahkan membuat lagumu terdengar lebih pelan saat orang-orang memutarnya di platform streaming.

Untungnya, mendapatkan tingkat loudness yang ideal kini jauh lebih mudah dari sebelumnya. Perangkat metering digital modern dibekali beragam fitur hebat untuk menjaga kenyaringan musikmu tetap aman. Dan Mix Check Studio siap menghilangkan segala keraguanmu dengan memberikan petunjuk jelas yang disesuaikan dengan genre musikmu agar karyamu bisa tampil maksimal.

Jika hasil analisis mendeteksi adanya masalah yang lebih mendalam dari sekadar batas limiting akhir - seperti masalah keseimbangan (balance) atau kepadatan (density) di dalam racikan mix itu sendiri - Automix akan membereskannya langsung di level stem sebelum masuk tahap mastering, sehingga kamu bisa mencapai target loudness terbaik tanpa mengorbankan keindahan dinamika mix musikmu!